“Unlike” Generasi Anak Lay


Ketika mencoba menggarap tulisan yang sederhana ini, penulis teringat awal pertama kali mengenal huruf kapital. Saat itu, penulis masih duduk kelas V SD(sekolah dasar). Mungkin pembaca sekalian sudah duluan mengenal huruf yang besar itu.

Cerita masa lalu yang penulis dengar dari guru-guru, ketika itu terasa begitu indah dan rapi tulisan-tulisan orang dahulu. Tata letak huruf, mulai dari huruf kapital, huruf vokal, huruf konsonan sesuai dengan ejaan dan tata berbahasa yang baik dan benar. Pengalaman masa SD, yang masih sangat melekat di ingatan penulis, ketika guru bahasa Indonesia menuliskan “Menyelam Sambil Minum Air” dengan format tulisan bersambung di papan tulis. Ketika itu lah penulis mulai menemui arah penempatan huruf kapital dari awal kalimat sampai penghujungnya.

Sungguh berjasa guru-guru yang telah memperkenalkan huruf-huruf pada muridnya. Bayangkan saja ketika kita diajarkan mengenali huruf-huruf. Ini huruf “A” Nak, ini huruf “B” Nak, dan lain-lain. Bahkan, ketika melanjutkan jenjang pendidikan sekolah menengah pertama, sampai sekolah menengah atas  pun pelajaran bahasa Indonesia merupakan pelajaran yang wajib -diujiannasionalkan-.

Merujuk ke fenomena yang terjadi di kalangan remaja sekarang, bermacam ragam kita temui tulisan mereka yang campur aduk huruf dan angka. Seperti contoh yang pernah penulis dapati dari balasan komentar sebuah notes teman beberapa hari yang lalu, kalimatnya begini, ” 4Q s3nAnG K2Mv kRit!K 2l!sAnQ “.  Berat dugaan bagi mereka, mungkin sudah kebiasaan menulis dengan huruf campur angka dan simbol-simbol sebagai bentuk lambang keindahan pada tulisannya. Tapi pernahkah kita teringat akan jasa guru bahasa Indonesia yang dari tingkat dasar sampai tingkat menengah atas bahkan di bangku kuliah kita belajar bersamanya?.

Rasanya -tidak berlebihan- untuk mengatakan, mereka sudah mengobrak-abrik ejaan bahasa Indonesia sebagai persatuan yang telah diwarisi begitu rapi oleh pendahulu kita. Tapi, mereka  masih saja menulis dengan tulisan yang ketika dibaca aduhai pusing kepala. Bisa dipastikan kalau fenomena seperti ini terus dibiarkan, kita tidak tahu bagaimana gaya tulisan generasi mendatang. Lazimnya penerus mendatang akan mencontohi pendahulunya, seperti kata Endatu kita “Kiban U meunan minyeuk, kiban Khu meunan aneuk”.

Menurut hemat penulis, hal yang demikian itu akan mengakibatkan diri seorang tidak akan pernah bisa menulis dengan ejaan yang telah ditetapkan. Peran orang tua sangat lah penting selaku guru pertama bagi anaknya. Oleh sebab itu, alangkah baiknya bagi orang tua untuk membekali anaknya etika kepenulisan sejak usia dini. Begitu juga memberikan buku-buku yang bermanfaat bagi penerusnya, sebelum diajari di SD(sekolah dasar) sampai ke perguruan tinggi yang akan diajari oleh guru bahasa Indonesia. Besar harapan, setidaknya jika diri kita tidak suka dengan pelajaran bahasa Indonesia, bisalah kita ungkapkan bentuk terima kasih kita untuk tidak jadi “Alay” alias anak lay. Mari kita kenang  jasa guru bahasa Indonesia dengan “unlike” jadi alay.

Semoga kehadiran coretan yang sederhana ini, bisa menjadi bahan pertimbangan bagi yang dulunya suka menulis dengan ejaan kurang sempurna. Semoga..!

Silakan komentar sesuka Anda :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: