Potret Dekat ‘Al-Azhar’


Negara Mesir yang terkenal dengan sebutan ardhul anbiya (negeri para nabi), memang telah menjadi kiblat keilmuan keislaman dunia. Di samping mempunyai segudang peradaban, negeri seribu menara ini juga merupakan gudang segala ilmu. Benar, negara ini seakan-akan memiliki daya tarik tersendiri bagi mereka yang haus akan ilmu. Hal ini terbukti, Mesir telah berhasil  memikat jutaan hati para pelajar dari berbagai penjuru dunia untuk menimba ilmu di sana. Tentunya, semua ini tak lepas dari peran  Al-Azhar, dengan kehadirannya sebagai pusat pendidikan tertua yang telah melahirkan banyak ulama dunia.


Di sini, penulis akan bercerita sedikit tentang potret dekat pendidikan di Al-Azhar, sesuai fakta yang penulis dapatkan di lapangan nyata.  Sebelum menginjakkan kaki di bumi kinanah ini, penulis sendiri juga sempat bertanya-tanya, “Metode apa sebenarnya yang Al-Azhar pakai, sehingga para penuntut ilmu terus berdatangan ke sana setiap tahunnya?”. Setelah menelusuri lebih dalam, ternyata tradisi talaqqi dan metode modern lah yang mewarnai universitas Al-Azhar dan masjid Al-Azhar hingga masih terlihat indah hingga saat ini.

Tradisi Talaqqi 

Hadirnya berbagai metode pendidikan dan literasi dewasa ini telah membuka mata banyak pihak penyelenggara pendidikan. berbagai inovasi baru di bidang pendidikan dan pengajaran telah sedemikian dinamis sesuai tuntutan zaman. Sehingga, kehadirannya turut mendukung berbagai metode yang telah sering digunakan sebelumnya. Di antara metode yang sering digunakan sebelumnya adalah tradisi talaqqi.

Istilah talaqqi dapat diartikan mengahadiri majlis pengajian kepada seorang syaikh (guru), mendengarkan atau membaca sebuah kitab kepadanya secara face to face, sebenarnya istilah ini tidak asing lagi di kalangan para pelajar, terlebih-lebih di dunia pondok pesantren tradisional. Beberapa bulan yang lalu, penulis bersama beberapa rekan Aceh lainya, menyempatkan diri untuk hadir mengikuti talaqqi bersama salah seorang ulama besar Mesir di masjid Al-Azhar. Sesampai di pintu gerbang masjid, tampak thalibul ilmi (penuntut ilmu) sedang menenteng beberapa kitab di tangan mereka dengan tujuan berbeda-beda. Karena jadwalnya pun begitu banyak tertera mulai dari subuh buta sampai malam gulita.

Bagi yang ingin memperdalam ilmu aqidah, mereka berduyun-duyun masuk ke ruwaq (ruang) yang mengkaji secara detil ilmu aqidah. Ada juga yang suka memperdalam ilmu lughah, mereka dengan wajah senang memasuki ruwaq yang mengupas detil dari segi khilafnya ulama-ulama terdahulu.  Begitu juga dengan mereka yang ingin memperdalam ilmu fiqh, mereka mencari ruwaq yang mengupas tuntas ilmu fiqh sesuai dengan mazhab-mazhab yang mereka ikuti. dst. Menariknya, para syaikh yang mengajar sebagian besar adalah orang-orang yang terkenal di Mesir. Seperti  Prof. Dr. Ali Jum’ah Muhammad (Mufti Mesir), Prof. Dr. Ahmad Thayyib (Grand Syaikh Al-Azhar). Yang tak kalah menarik juga kiprah alumni-alumni mengadakan seminar tingkat international minimal satu kali setiap bulannya. Pada seminar ini, mereka turut menghadirkan para ulama-ulama besar yang tersebar di seluruh pelosok dunia. Betapa indahnya hidup ini jika hari-harinya selalu bertatap muka dengan ulama.

Metode Modern

Di samping menghidupkan tradisi talaqqi, metode yang Al-Azhar terapkan juga metode modern, sama halnya dengan  kuliah lainnya. Hanya saja bedanya, para pengajar di lembaga pendidikan al-Azhar, -menurut hemat penulis-, adalah tenaga ahli yang qualified. Orang-orang yang benar-benar ingin berkhidmah pada umat melalui ilmunya. Mereka begitu ikhlas menyampaikan ilmu pengetahuan kepada para murid. Imbalan bukan sasaran mereka, tapi berdakwah di jalan Allah SWT  menjadi tujuan utama. Tentu hasilnya akan berbeda, ketika seorang guru mengajar karena gaji, dibanding pengajar yang ikhlas dalam mengemban amanat ilmu yang telah didapati. Pengajar yang ikhlas akan lebih berbekas. Karena segala yang keluar dari hati akan masuk ke hati. Bukan sebaliknya, pengajar yang kurang ikhlas justru ilmu yang disampaikan tidak berbekas.

Semua pengajar di Al-Azhar diwajibkan telah menyelesaikan program doktoral, dan mengajar sesuai dengan takhasusunya masing-masing. Sepatutnya kita bisa bercermin dari negera-negara yang menerapkan hal seperti itu. Tapi apa boleh dikata, memang sudah kenyataannya negara kita yang masih kekurangan tenaga pengajar lulusan program doktoral.

Barangkali itulah beberapa potret pendidikan di Al-Azhar secara dekat. Kelak kita merindukan dayah tercinta ini, menjadi magnet yang menarik santri-santri haus akan ilmu, serta dapat melahirkan generasi-generasi yang taat pada Ilahi dengan mengemban amanat ilmu yang didapati. Besar impian kita ke depan, -bukanlah suatu hal yang mustahil-, dayah kita di bantu para alumni-alumni dapat mengadakan seminar tingkat international atau nasional lah paling kurang, dengan menghadirkan pakar-pakar dari berbagai manca negara.Tentunya semua ini insya Allah akan terwujud jika ada dorongan dan dukungan dari semua pihak. Semoga saja ini dapat terwujud. Amiin ya rabbal ‘alamin

Pernah dimuat di darululum-ypui.net

2 Tanggapan

  1. lanjutkan brader

    • Hehehe….
      Terima Kasih brader ka neusinggah bak gebuk kamoe.
      Kiban kaa trafik wabsite tanyoe?, sang menurot loen perlei tatamah page saboh treuk; ” Karya Santri “. Dengan kehadiran page nyan santri akan leubeih seumangat tumuleih. Karena an-Nahla pih hana toem teubit lei.
      #Tingat keputusan Mentri Pendidikan. hahaha

Silakan komentar sesuka Anda :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: