Apa Kabar Pers Indonesia


Oleh Mukhtaruddin Yakob

KEKERASAN terhadap jurnalis menjelang peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari lalu, mengingatkan saya pada wacana peningkatan kualitas pers dan perusahaan pers. Karena sebagian kekerasan juga disebabkan kondisi pekerja pers dan media yang belum sehat.

Saya tidak menuding penyebab kematian Darma S, wartawan Mingguan Monitor di Kutacane  dan penganiyaan terhadap Basri, wartawan Radar Nusantara di Aceh Timur adalah bagian dari kondisi ini. Karena aksi kekerasan ternyata tidak terlepas dari ulah oknum wartawan di lapangan.

Sejak dari peringatan HPN 2010 di Palembang, baru Standar Kompetensi Wartawan (SKW) lari kencang. Sementara Standar Perlindungan Profesi Wartawan (SPPW), Standar Perusahaan Pers (SPP) sepertinya belum terjamah.

Sejauh ini, Dewan Pers telah menetapkan PWI, AJI, LPDS, LKBN Antara, dan RRI menjadi lembaga penguji kompetensi wartawan. PWI bersama Dewan Pers bahkan telah lari kencang melakukan uji kompetensi di berbagai daerah. Sementara organisasi lain, seperti AJI masih mematangkan konsep jitu untuk melakukan hal serupa tentu dengan formulasi handal.

Data terakhir, PWI telah melaksanakan uji kompetensi bagi 543 anggotanya di 12 provinsi. Uji kompetensi terbaru berlangsung di Aceh pada 18 Januari 2012 silam. Dari 14 ribu anggota PWI yang tersebar di seluruh Indonesia, jumlah mereka yang sudah mengikuti uji kompetensi belum mencapai 5 persen. PWI bahkan menargetkan bisa melakukan uji kompetensi terhadap 1.000 anggotanya per tahun. Sementara AJI belum menyusul, meskipun lembaga ini telah menerima single identity (identitas tunggal) dari Dewan Pers 1 Desember 2011 silam. Artinya, AJI sudah berhak melaksanakan kegiatan serupa meskipun tidak mesti simultan dengan organisasi lain.

Single identity yang diterima langsung dari Dewan Pers akan menghambat perkembangan jurnalis atau wartawan yang tidak profesional. Karena identitas tunggal nantinya dijadikan legalitas  bagi jurnalis. Sayangnya, SKW berjalan tidak simultan dengan SPPW dan SPP. Seharusnya, SPP dan SPPW bisa berjalan seiring bergulirnya SKW.

Kondisi pers

Barangkali Dewan Pers menilai bahwa melalui SKW akan melahirkan jurnalis/wartawan handal dan profesional. Maka, dengan sendirinya akan berdampak pada pola mata dadu, yakni mewujudkan perusahaan pers yang profesional. Atau bisa jadi, dengan adanya SKW juga, kondisi perusahaan pers akan sehat. Tidak seperti sekarang, mendirikan perusahaan pers untuk mencari keuntungan dari wartawannya atau menempuh upaya-upaya ilegal seperti iklan tembak atau teror.

Kondisi pers Indonesia secara umum masih memprihatinkan. Kondisi kebebasan pers kita tahun 2011 makin anjlok. Indeks kebebasan pers di Indonesia menduduki peringkat 146 dari 179 negara yang disurvey. Data terbaru yang dirilis Reporters Without Borders (satu lembaga pemeringkat indeks kebebasan pers) menempatkan Pers Indonesia berada di bawah Filipina yang menempati urutan 140. Padahal Filipina baru saja didera dengan kasus pembantaian 32 jurnalis di Ampatuan pada November 2009 silam. Keseriusan penegak hukum di negeri ini menjadi indikator naiknya indeks kebebasan Filipina. Indeks ini masih lebih baik dibandingkan negara ASEAN lain, yakni Burma atau Myanmar. Burma anjlok ke urutan 169, sedangkan Vietnam buruk lagi, hanya mampu menempati urutan 172.

Kasus pembunuhan dua wartawan di Papua Barat, kekerasan terhadap jurnalis lainnya di Indonesia menjadi alasan utama indeks kebebasan pers Indonesia menukik tajam. Demikian juga campur tangan penguasa dan lahirnya berbagai regulasi juga kontrol berlebihan mengamputasi kebebasan pers yang telah dinikmati sejak era Reformasi.

Selain kebebasan pers, standar perusahaan pers juga masih jauh dari harapan. Sebagian besar perusahaan pers belum memberi kesejahteraan dan perlindungan hukum untuk pekerjanya. Tidak jarang, pekerjanya dimanfaatkan untuk mencari keuntungan perusahaan. Kebebasan mendirikan perusahaan pers disalahgunakan.

Penerbitan pers menjamur di hampir seluruh daerah tanpa mempertimbangkan kemampuan manajemen dan finansial. Maka, lahirlah beragam warna pers dewasa ini. Koran kuning, wartawan amplop, wartawan bodrek atau pelbagai istilah yang intinya mencemari wajah pers Indonesia.

Transaksi liputan

Potret buram juga terjadi dalam dunia penyiaran. Ketatnya persaingan liputan untuk mengejar rating, industri penyiaran melegalkan outsourcing ilegal. Dunia televisi melanggengkan praktek transaksi liputan dengan cara yang tidak sehat. Program pemberitaan di media televisi terbiasa dengan lari dari tanggung jawab. Sehingga, format liputan kontribusi menjadi andalan bagi media ini. Redaksi pemberitaan nyaris tidak merasa bersalah dengan praktek ini. Para pekerjanya diperlakukan seperti supir angkot yang mengejar setoran tanpa adanya tanggung jawab terhadap risiko pekerjanya. “Jurnalis Tuyul”, itulah istilah yang populer di kalangan pertelevisian.

Jalan pintas menjadi pilihan. Perusahaan TV di Indonesia lebih memilih mendapatkan liputan dari mana saja untuk mendahului pesaingnya. Tidak peduli akurasi liputan dan efek terhadap liputan tersebut, yang penting pertama dan terdepan. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Dewan Pers nyaris luput memerhatikan kondisi ini. Padahal, praktek ini sebuah tindakan plagiat dan tidak bertanggungjawab.

Sikap welcome pengelola media televisi diamini para korespondennya di daerah. Koresponden pun menempatkan kontributornya di berbagai pelosok dengan kompensasi upah seadanya. Para kontributor nyaris tidak mendapatkan haknya ketika karyanya diambil alih “majikannya”.

Nah, kasus kekerasan terhadap wartawan dalam dua bulan terakhir selayaknya dijadikan momentum membenahi pers, bukan saja menyentuh soal SKW, tapi juga SPP. Karena kondisi perusahaan pers Indonesia tidak bisa diabaikan cita-cita mewujudkan wartawan profesional.

* Penulis adalah Pekerja Pers/Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh.

Sumber : Serambi Indonesia

Silakan komentar sesuka Anda :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: