Dari Dayah Hingga ke Negeri Kinanah


Cairo, 12 Maret 2010

Oleh : Akhi Tozz El-Mathariya

Masih terbayang di ingatanku sebuah pengalaman suci yang pernah kualami dulu. Suatu hari, ketika itu aku masih duduk di bangku kelas I SMP Islam Dayah Modern Darul ‘Ulum, hari itu tepatnya hari Jum’at sekitar pukul sebelas, membuat pikiranku terbang melayang mengingat kepergian Ust. H untuk menuntut ilmu di Negeri Kinanah, sebuah wadah yang sangat cocok bagi penuntut ilmu, itulah Al-Azhar Al-Syarif, sebuah universitas yang sangat masyhur di dunia. Mulai itulah azzam yang kuat kutancapkan di hatiku.

Hari semakin berlalu bulan pun berganti tahun, ketika itu bulan Maret 2004 santri-santri sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian yang sebentar lagi akan datang. Sebelum ujian tiba Ust. M telah memberi banyak taushiyah kepada santrinya, “Utruk maa siwa al-darsi”  itulah salah satu pesan beliau yang pernah aku sematkan di pintu lemariku.

Tanpa terasa tiga tahun sudah kulalui, tingkat Mutawassithah pun berhasil kulewatkan walau dengan predikat yang sedikit mengecewakan hatiku, Semua itu juga karena kenakalanku sendiri yang telah menyia-nyiakan waktu belajar. Apa boleh dikata diriku harus tetap bersyukur dengan hasil predikat itu. Banyak teman-temanku yang melanjutkan pendidikan mereka ke sekolah-sekolah masyhur di Aceh, juga didukung dengan prestasi mereka yang sangat memuaskan. Tanpa pilihan ke tempat lain, juga karena aku merasa masih kekurangan dan haus dengan ilmu agama akhirnya kuputuskan untuk memilih Ma’had Darul ‘Ulum Al-Ashri. Selain itu, juga karena nasehat Ibunda tercinta, “kalau tingkat Mutawassithah sudah lewat, tingkat Aliyah akan menjadi masa-masa yang paling berkesan untuk tinggal di ma’ha”.

“Teet….teet….teet..” bell berbunyi tiga kali pertanda seluruh santriwan dibolehkan untuk keluar ke mana saja asalkan jangan ke tempat yang dilarang agama. Tepatnya ketika itu hari minggu di awal bulan, aku sengaja tidak keluar mengingat uang jajan yang sangat pas-pasan untuk bulan itu. Aku duduk seorang diri di kamar dua -Maskan Al-Farabi- sambil memegang sebuah Qalam dan tinta cina untuk memperhalus tulisan khat di selembaran karton yang masih kosong. Sekitar jam sebelasan seorang abang datang menghampiriku lewat jendela kamar yang sengaja kubiarkan terbuka seraya berkata, “ba’da Dhuhur kita ada perpisahan dengan ust. M“. Alhamdulillah beliau mendapat kesempatan untuk melanjutkan Masternya di Sudan. Tidak lama kemudian azan pun berkumandang. Seluruh santriwan yang tidak pulang dan santriwati bergegas ke mesjid untuk shalat dhuhur bersama. Seusai shalat bersama kemudian dilanjutkan dengan perpisahan dengan ust. M

Saat itu, acara perpisahan berlangsung penuh makna. Masih jelas terngiang sebuah pertanyaan dari guru besar ust. M, “Mana seperti si M lainnya?”. Ust. M sendiri banyak memberikan motivasi ke seluruh santrinya, “niat yang ikhlas akan menembus cita-cita kita”. Niatku untuk menggapai cita-cita semakin menggebu-gebu. Sejak hari itu pikiranku tidak terlepas dari pesan ibunda tercinta, masa-masa tingkat aliyah adalah masa yang paling bermakna. Masa untuk mengubah segalanya.

Satu minggu kemudian, saat aku duduk di sebuah mesjid sambil membaca sebagian surah Al-Baqarah, diriku seolah-olah seperti berada di Mesjid Amr Ibn Ash di Negeri Seribu Menara sana.

Awal ajaran baru pun segera dimulai, sekitar  dua minggu setelah ajaran baru dimulai sebuah kabar gembira telah kudengar dari abang-abang kelasku, tiga orang kawan mereka sudah diterima di Universitas Al-Azhar Asy-Syarif.

Tak terasa pintu gerbang masa depanku akan segera terbuka. UN sudah di depan mata, pertanda harus fokus  untuk mempersiapkan diri. Setelah UN kuterima kabar dari kawanku bahwa pendaftaran calon mahasiswa Timur-Tengah sudah dibuka. Jantungku mulai berdebar, “siapkah diriku menjawab soal-soal yang akan diuji nantinya?” Sehari kemudian teman yang mengabariku info tersebut sudah lebih dulu mendaftarkan dirinya, tinggal aku dan seorang teman karibku di dayah. Kami pun sudah berniat akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menikmati pendidikan di universitas Al-Azhar Al-Syarif. Ketika itu kami berdua tinggal di sebuah warnet yang terletak di dekat kampus UIN Ar-Raniry, dengan kereta pinjaman dari seorang kawan kami segera meluncur  ke tempat pendaftaran itu untuk mendaftarkan diri juga. “Kita harus mengulang kembali pelajaran dayah,” pesanku seusai keluar dari ruangan itu.

Hari pun terus berlalu, seminggu kemudian hari bertatap muka dengan duktur lulusan Al-Azhar sambil menjawab soal-soal darinya. Testing dimulai jam delapan pagi sampai jam lima sore.

Sebulan kemudian aku mendapatkan info dari kawanku yang juga ikut seleksi, bahwa pengumuman hasil testing sudah diumumkan di sebuah situs Depag. Alhamdulillah Allah mengabulkan keinginanku untuk bisa melanjutkan pendidikan di sebuah universitas tertua di dunia. Dan kawan karibku juga lulus test. Setelah pengurusan paspor dan visa, Ishal Al-Azhar Al-Syarif  pun kami dapatkan.

Hari Jum’at pertengahan bulan Desember merupakan hari yang sangat bersejarah dalam hidupku, karena pada hari itu keluarga; Ibunda tercinta, adik, nenek, dan kawan-kawan seperjuangan lainnya, turut mengantar kepergianku ke negeri Kinanah yang juga dikenal dengan Negeri Seribu Menara. “Air Asia” sebuah pesawat dari rute bandara SIM (Sultan iskandar Muda) Banda Aceh ke Kuala Lumpur (Malaysia) membawaku terbang dan inilah pertama kalinya aku menaiki pesawat. Satu jam setengah ke depan kami mendarat di bandara Selangor. Sesampai di sana, aku melihat kebersihan bandara negeri jiran jauh lebih bersih jika di bandingkan dengan bandara kita. Tiga puluh menit di bandara aku dan rombongan yang akan bermisafir ke negeri para Ambiya, langsung dibawa ke bandara KLAI yang jaraknya sekitar delapan kilometer dari bandara selangor.

“Hayya ‘Ala al-Shalah” Suara Adzan berkumandang di waktu senja pertanda waktu shalat maghrib telah tiba. Kami pun menunaikan shalat di sebuah mesjid yang berada di dalam bandara itu. Seusai shalat maghrib, langsung siap-siap untuk Check In. Sambil menunggu makanan malam dari broker yang dibelinya di lantai dasar, kami berfose ria di lantai enam KLAI sebagai kenang-kenangan kalau kami sudah pernah ke Malaysia. Di karenakan ada kerusakan teknis pada pesawat, terpaksa jam enam pagi kami berangkat dari Malaysia.  Sebelum kami menginjakkan kaki ke negeri para Anbiya, kami harus transit terlebih dulu ke sebuah negeri yang sangat kaya dengan dinarnya, Kuwait.

Sesampainya di sana kami langsung Check In lagi, melanjutkan perjalanan kami ke negeri Kinanah. Lima belas menit setelah itu panggilan nomor bangku untuk masuk ke dalam pesawat pun dibacakan. Kuwait Airways pun membawa kami terbang ke angkasa. Kami tiba di bandara International Cairo tepatnyapukul dua siang ketika itu.

Rombongan kami keluar terakhir dari sekian ratusan banyak penumpang yang tiba di Cairo siang itu. Kami pun keluar dari pesawat setelah mengeluarkan paspor untuk dicap tanggal tiba di Cairo. Tampak di luar sana  abang-abang dari KMA (Keluarga mahasiswa Aceh) tersenyum bahagia menyambut kedatangan kami, penerus generasi mereka. Setelah semua barang terkumpulkan, kami pun keluar dan bertatap muka yang  disambut hangat oleh mereka. Kami  saling berjabat tangan sebagai tanda keakraban.

Jam dua siang lewat, pertengahan musim dingin awal pertama kalinya kakiku menginjak bumi kinanah ini, kami pun dibawa ke Meuligoe Aceh untuk diperkenalkan dengan abang-abang lain yang tidak sempat menjemput kami ke bandara siang tadi. Kembali kehangatan itu kami rasakan di sini. Ibarat sebuah keluarga, serumah, senasib, seperjuangan dalam berjuang di negeri para anbiya  ini. Tidak lama kemudian adzan pun berkumandang di sebuah mesjid dekat Meuligoe Aceh, pertanda waktu shalat Ashar di Mesir telah tiba. Kami pun shalat berjamaah di mesjid, setelah shalat aku dan rombongan yang baru datang pun kembali ke KMA untuk melanjutkan acara pertemuan dengan syedara yang lebih dulu menginjakkan kakinya di Mesir. Terpikir dalam pikiranku ketika bercerita dengan guru sosiologi di dayah dulu, “Orang aceh di manapun dia berada, ciri khas Aceh itu tidak terlepas darinya.”

Setelah dua jam pertemuan dengan senior-senior, tramco -seperti L300-                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               sudah siap menunggu di depan KMA untuk mengantarkan kami ke sebuah rumah yang ditempati  oleh orang Aceh, di Mathariya. Sesampainya di sana, kami di sambut oleh abang-abang dengan ramah dan disuguhkan buah strawberry yang sangat banyak kita temui ketika musim dingin di Mesir. Tak lama kemudian jam telah menunjukkan pukul sebelas lewat tiga menit sudah waktunya untuk beristirahat. Mereka pun menggosongkan dua buah kamar yang dilengkapai dengan kasur dan selimut tebal. Karena kami belum beradaptasi dengan musim dingin, seolah-olah dinginnya menusuk ke tulang.

Pagi pertama aku dan kawan-kawan merasakan segarnya suhu udara mencapai 15 derajat celcius di negeri Kinanah ini, abang-abang telah menyiapkan nasi goreng untuk sarapan pagi. Setelah itu kami menaiki Metro –kereta api cepat- untuk melihat kampus yang sudah lama kami rindukan sejak di Indonesia. Bermacam suku dan bangsa yang belajar di Universitas itu, tempat syuting KCB yang sempat menjadi film favorit di Indonesia. Setiba di kuliah kami langsung masuk lewat pintu gerbang utama. Ketika berada di dalam kuliah kami merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Sungguh pemandangan yang sangat jarang bisa kita temukan di Indonesia. Kami melihat para mahasiswa membaca Al-Qur’an di mana-mana, bahkan di dalam tramco ataupun bus mereka tak sengan-segan untuk membaca kalam Illahi. Bukan itu saja, lingkungna di sini betul-betul terasa seperti masa Rasulullah dulu. “Afsyu as-salam” betul-betul diamalkan di sini. Sungguh mulia, bukan?!

Sehari kemudian, kami sudah bisa menghafal jalan yang ada di sini. Aku dan seorang kawanku memberanikan diri untuk pergi ke rumah abang kelas ketika di Darul Ulum dulu, yang jarak rumah beliau lebih kurang satu jam perjalanan. Selama dalam perjalanan, kami berjumpa dengan orang yang kerjaan sehari-harinya mencari biqiia (barang berkas) dengan keledainya. Walaupun kehidupannya hanya sebagai pencari barang berkas, penampilannya sangat kotor, akan tetapi benda mulia itu masih berada di atas kepalanya, sehelai jelbab panjang masih menutupi auratnya. Sungguh suatu hal yang patut kita contoh apalagi daerah kita daerah penerapan Syariat Islam. Selain dari itu, masih banyak lagi hal-hal lain akan kita dapatkan di Negeri Kinanah ini. Kita akan melihat dengan nyata ada anak kecil yang berumur tujuh tahun sudah menghafal Al-Quran tiga puluh juz, Subhanallah. Semoga kita bisa mencontohi perbuatan mulia itu.

Akhirul kalam, salam ukhuwah buat saudaraku seiman dan seagama, calon-calon penghuni Syurga, ingatlah selalu pesan ust. M; tumbuhkan niat yang tulus ketika kita ingin mengerjakan sesuatu. Terus berusaha dan berdoa moga Allah arahkan cita-cita kita karena dengan usaha dan doalah semua itu akan tercapai. Salam ukhuwah juga terikat rindu buat adik-adiku para mujahid- mujahidah yang sedang berjihad di Dayah Modern Darul Ulum. Teruslah semangat berjihad di jalanNya.

2 Tanggapan

  1. berjuang ya sob…
    jadi orang yang berhasil di negr iorang sana:)

    • heehehhe… tulisan tahun lalu…
      Thank’s for visiting and comment…

Silakan komentar sesuka Anda :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: